Sabtu, 19 Maret 2011

Menuju Masyarakat Pasca Industri

Pasca Revolusi Industri di Inggris, sebagian besar negara di dunia berlomba-lomba untuk menuju ke sana. Yaitu peralihan dari tenaga manusia menuju pada tenaga mesin. Pada masa sebelumnya, masa agraris, seluruh hasil produksi dihasilkan melalui tenaga manusia. Sejak revolusi industri penggunaan tenaga manusia dalam melakukan produksi mulai dikurangi.
Pendekatan sosiologis yang khusus dari Bell ini dikenal sebagai ramalan sosial. Ramalan sosial menggabungkan perspektif makroteoritis, yang merupakan bagian dari perspektif sosiologi klasik, dengan minat yang diperbaharui dalam sosiologi yang ”relevan” dan ”bermanfaat”, yang membicarakan kondisi-kondisi masa kini. Bell membedakan ramalan sosial dengan usaha-usaha prediksi sosiologis yang lebih awal. Prediksi menyangkut hasil peristiwa-peristiwa, prediksi yang demikian itu tidak dapat diformalisir – dalam arti tidak dapat ditundukkan pada hukum-hukum. Di pihak lain, ramalan sosial mencoba membuat garis besar peringkat kemungkinan dari berbagai kecenderungan historis.
Konsep maasyarakat post-industri dapat lebih dipahami lewat analisa lima dimensi atau komponen. Dimensi pertama menyangkut sektor ekonomi, dimana penghasil barang jadi beralih menjadi masyarakat penghasil jasa. Dimensi kedua terjadi di lapangan pekerjaan. Di sini terdapat perubahan dalam jenis kerja, yaitu keunggulan kelas profesional dan teknis. Dimensi ketiga ialah ”pemusatan pengetahuan teoritis sebagai inovasi dan pembentukan kebijaksanaan bagi masyarakat. Dimensi keempat ialah orientasi masa depan, yang mengendaikan teknologi dan penafsiran teknologis. Dengan kata lain mayarakat post-industri bisa berencana dan mengontrol pertumbuhan teknologi itu daripada hanya ”membiarkan segalanya terjadi”. Dimensi kelima mencakup pengambilan keputusan dan penciptaan ”teknologi intelektual” baru. Dimensi ini berhubungan dengan metode atau cara-cara memperoleh pengetahuan.
Dunia menjadi semakin teknis dan rasional. Mesin berkuasa, dan ritme kehidupan ditempuh secara mekanis. Energi sudah menggantikan otot dan menyediakan tenaga sebagai basis produktivitas. Energi dan mesin sudah menggantikan hakikat kerja. Masyarakat post-industri bertumpu pada informasi. Dalam masyarakat post-industri kaum profesional semakin dibutuhkan karena memiliki informasi yang diperlukan.
Masalah ramalan sosial lebih dari hanya sekedar paparan materialisasi masyarakat post-industri. Tugas ramalan sosial ialah mengidentifikasi beberapa rintangan terhadap perubahan arah masyarakat yang berorientasi pada jasa itu. Salah satu diantaranya ialah ”rintangan produktivitas”. Bell menyatakan bahwa produktivitas dan out-put yang berupa barang itu tumbuh lebih cepat ketimbang jasa. Dalam jasa terdapat hubungan antara orang dengan orang ketimbang orang dengan mesin. Karena ketergantungan itu merupakan ketergantungan terhadap orang yang jasa-jasanya tetap harus dibayar, maka biaya terus meningkat.
MODE ECONOMIZING. Setelah industrialisasi lahir, suatu masyarakat hampir tidak mungkin meningkatkan kekayaan dan menaikkan standard hidup yang mantap dengan menggunakan sarana-sarana damai. Sebagian besar kehidupan ekonomi sudah merupakan suatu zero-sum game, dimana pemenang meraih kekayaan sambil merugikan pihak lain. Dengan kata lain, mode economizing itu merupakan alokasi uang terbaik atau sumber-sumber yang langka diantara kompetitif tujuan-tujuan. Mode economizing memiliki keterbatasan-keterbatasan yang serius. Pertama, ia hanya mengukur barang-barang ekonomi. Kedua, tidak mempertimbangkan eksternalitas (biaya eksternal) yang dapat dipindahkan kepada pihak-pihak swasta lain atau masyarakat secara keseluruhan. Yang ketiga ialah, sistem nilai masyarakat Amerika yang menekankan, sebagai pertimbangan utama kepuasan konsumsi pribadi individu.
MODE SOCIOLOGIZING. Bell memberi batasan mode siciologizing sebagai ”usaha untuk menimbang kebutuhan masyarakat dengan cara yang lebih disadari dan melakukan hal itu atas dasar beberapa konsepsi kepentingan umum yang eksplisit. Mode ini mencakup dua masalah mendasar: 1. pemantapan keadilan sosial secara sadar dengan mengikutkan semua orang yang ada dalam masyarakat. 2. kesadaran bahwa barang-barang sosial adalah kepentingan komunal atau politik bukan kepentingan individu. Mode sociologizing harus mencoba merencanakan sebuah masyarakat yang rasional.
Sumber utama masyarakat pra industri ialah tanah; dalam masyarakat industri ialah mesin, sedangkan masyarakat post-industri ialah pengetahuan. Dalam masyarakat post-industri, kekuasaan berada di tangan universitas dan lembaga-lembaga, sedangkan figur dominan ialah kaum ilmuwan dan peneliti.
Bell berusaha memperjelas suatu skema struktur sosial masyarakat post-industri. Sistem stratifikasi berdasar atas pengetahuan, dengan kelas profesional berada di jenjang tertinggi. Sistem kelas masyarakat post-industri ini berdasar atas pengetahuan di mana prestasi dan kemampuan pribadi menjadi andalan penting.
Bell yakin akan runtuhnya kepercayaan terhadap Tuhan dab terhadap kekelan jiwa, dan terjadinya krisis dalam kesadaran diri ini menjurus ke individualisme ekstrim yang merupakan ciri-ciri masyarakat modern.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar